Siapa yang
tidak mengenal produk Kodak pada periode tahun 80-an hingga akhir 90-an? Kodak
hampir menjadi penguasa tunggal bisnis fotografi. Ketika Canon dan Nikon menjadi new comers dengan memperkenalkan
teknologi foto digital, Kodak secara angkuh mendeklarasikan bahwa hasil
kualitas brightness dan sharpness foto digital tidak akan sebaik
menggunakan rol film. Namun Kodak gagal
melakukan identifikasi bahwa foto digital dapat disimpan lebih aman dan dapat
dicetak ulang setiap saat tanpa kehilangan kualitas gambarnya, berbeda dengan negative film atau rol foto yang mudah rusak dan usang dimakan waktu.
Kegagalan Kodak untuk survive di industri fotografi merupakan kegagalan
manajemen dalam menentukan pilihan strategi-strategi yang tepat dalam merespon
persaingan dan kemajuan teknologi. Kodak
adalah contoh entitas organisasi yang tidak berhasil mengidentifikasi perubahan
lingkungan dan menyesuaikan strateginya.
Setiap organisasi
pasti memiliki goal. Apabila sebuah
entitas organisasi tidak mampu mendefinisikan dan menentukan goal-nya, maka bisa dipastikan tidak
akan berlangsung lama. Identifikasi
visi, misi, tujuan, serta penentuan strategi merupakan salah satu fase awal
dalam membentuk sebuah entitas organisasi, baik yang profit oriented maupun non-profit
oriented.
Pada fase
berikutnya goal setting akan
dijabarkan ke dalam strategi-strategi yang lebih specific, achievable, measurable, realistic, dan memiliki batas
waktu. Strategi-strategi yang dipilih juga harus menyesuaikan perubahan kondisi
lingkungan serta perkembangan kompetitor-kompetitor yang ada. Manajemen strategi memainkan peran krusial
pada fase ini.
Direktorat
Jenderal Perbendaharaan adalah salah satu unit eselon I yang memiliki fungsi
strategis di Kementerian Keuangan. Dengan vision
statement “to be a worldclass state
treasury” Ditjen Perbendaharaan
membawa semangat transformasi dengan visi yang jauh ke
depan. Jika memperhatikan vision
statement tersebut, dapat terlihat goal yang ingin dicapai oleh Ditjen
Perbendaharaan yaitu ingin menjadi pengelola perbendaharaan yang profesional
dan menjadi benchmark bagi
negara-negara lainnya.
Ditjen
Perbendaharaan mengidentifikasi pesatnya kemajuan teknologi informasi serta
perubahan tuntutan stakeholders terhadap
pelayaan publik yang excellence, kemudian menuangkannya ke dalam
strategi-strategi hingga ke tataran yang sangat teknis. Arah transformasi yang tengah digulirkan
Ditjen Perbendaharaan yaitu merubah mindset
organisasi dari treasury
administrative menjadi treasury
analysis. Hal tersebut tergambar
dari beberapa inisiatif-inisiatif sejak lima tahun ke belakang yang berbau
analisis seperti Kajian Fiskal Regional dan Spending
Review. Disamping itu juga pembentukan
unit setingkat eselon III yang khusus melaksanakan research & development, semakin menguatkan bahwa Ditjen
Perbendaharaan secara serius melaksanakan analisis serta research base dalam setiap kebijakan-kebijakan yang diambil. Hal ini sekali lagi menunjukan adanya
transformasi visi serta strategi-strategi from
Treasury administrative to Treasury analysis di tubuh Ditjen Perbendaharaan.
Ditjen
Perbendaharaan juga serius melakukan transformasi strategi sebagai upaya
peningkatan di sektor pelayanan publik. Penerapan
Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 pada sebagian besar kantor vertikal di
seluruh Indonesia, dan Implementasi Wilayah Bebas Korupsi, Wilayah Birokrasi
Bersih dan Melayani merupakan bukti kesungguhan Ditjen Perbendaharaan
meningkatkan pelayanannya. Itulah
berbagai upaya Ditjen Perbendaharaan dalam melakukan perubahan visi serta
strategi organisasi.
Maka secara
umum, proses merumuskan perubahan strategi itulah merupakan fungsi dari
manajemen stratejik, yang melibatkan seluruh unsur manajemen yang ada seperti
manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan, manajemen operasional,
manajemen sistem informasi, serta unsur manajemen lainnya. Ditjen
Perbendaharaan telah memiliki awareness manajemen stratejik yang baik.
Artikel ini adalah opini dari sudut pandang pribadi
penulis dan bukan merupakan pendapat institusi